Pengikut

Gambar tema oleh MichaelJay. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured

Addres :

Gempolmanis, Sambeng , Lamongan.
Phone : 08113531100
e-Mail : mediagmnews@gmail.com

Tugu Bandang Lele Oleh : Saiful Anam Assyaibani

Tugu Bandang Lele   Oleh : Saiful Anam Assyaibani   DI SUDUT timur bagian selatan alun-alun kota lamongan terdapat sebuah tugu. Tu...

Search This Blog

Ads 970x90

Iklan Atas Artikel

Popular Posts

Sepenggal Kisah Kyai Tar (Syaikh Muhtarullah Al Mujtaba Qoddsallah Sirruhuu)

Puisi : Termenung di Lembah Mimpiku

Halaman

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Pembayaran

Artikel Terbaru

Newsletter

Selasa, 27 Agustus 2019

Puisi : Termenung di Lembah Mimpiku


aku terlahir dari buaianmu
awal keahiran insan
bersama amanat kelahiranku
kutanyakan pada diriku

siapa aku ?
untuk apa aku?
dari mana aku?

aku lah Billah yang terlahir karna ridhomu
akulah Billah yang  menujumu
akulah Billah yang menjadi kekasihmu

Billah yang menari di pelataran rindu
menuju jatidiri mengharap ridhomu
akulah billah si anak senja menunggu rindu
rindu haus akan kekasih
termenung di lembah mimpiku

Jombang, 24 Juli 2015 08:09pm

TERJEBAK DI LEMBAH IMPIAN (Otobiografi)

Semua berawal dari kelahiranku titik di mana arah hidupku membawaku sampai saat ini, aku terlahir sekitar 3 dekade kehidupan dari keluarga kecil yang serba keterbatasan yang jauh dari perkotaan berteman hutan dan persawahan.

Awal dari sebuah pemikiran anak desa yang membawa cita cita yang tidak kesampaian yang harus tertatih tatih mencari jati diri yang harus mengambil arah berlawanan untuk menuju keinginan lahirnya.

Ketika aku sekolah di Madrasah yang ngak jauh dari rumahku aku menjadi anak yang agamis yang penuh dengan atur dengan tatanan norma pedesaan.

disitulah aku ingat jelas sangat jelas sekali hidup anak desa yang terjadwal dari pagi bersekolah siang mengaji sampai sore kemudian malam pun tak kurang banyak kegiatan dari mengaji tahtim, bersolawat diba’ dan berlanjut hinga saat malam membawaku pada mimpi mimpi dan hayalan sang anak desa.

Semasa di madarasah guruku bercerita kisah kecerdasan Abunawas bagaiman ia mampu mengakali hidupnya bahkan tidak ada yang sangup mengalahkanya, timbul pertanyaan di benakku sewajarnya anak seumuranku.

Apa benar abunawas itu ada?
Sepintar itukah?
Belajar di mana ilmunya?

Hinga sampai pada kesimpulan aku ingin seperti abunawas mampu merubah hidupnya sekehendaknya bahkan dalam cerita cerita berlanjut raja rajapun tunduk padanya, cerita abunawas membawaku pada lamunan anak desa yang ingin tercapainya segala keinginan.

Minggu berikutnya di pelajaran agama guruku menjelaskan beberapa ayat ayat dan hadis yang masih teringat sangat jelas bahwa "Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika manusia itu tidak mau merubahnya sendiri", pemikranku tersentak timbul pertanyaan yang membawaku pada kesimpulan sendiri berarti Tuhan tidak berbuat apa apa untukku.

Awal dari bergejolaknya hati yang membawaku terpengaruh dari kehidupanku yang serba kekurangan mengubahku dari si pendiam menjadi anak yang tak terkendali masih ingat betul saat seorang ibuk pertama kalinya menangis untuk anaknya yang melewati batas perubahan.

Berlanjut dari hari kehari minggu ke minggu di madarasah tempat sekolah pergaulan membawaku bertolak belakang dari kepribadianku dari kesetaraan yang terkesan ku paksakan membuatku hilang arah terjebak ke dalam kemunafikan dunia, kini aku yang terperosok pada kerasnya hidup di desa dengan segala kemampuan untuk memenuhi hasrat kini sang anak desa tumbuh menjadi pribadi yang urakan.

Sempitnya pengertian dari orang terdekat membawaku pada di titik ketidak kepedulianku pada siapapun demi memuaskan keinginan apapun terlaksana tanpa harus berfikir.

Setelah dari madrasah berlanjutlah ke Tsanawiyah dalam satu linkungan sekolah dalam pendidikan agamapun membuatku semakin tak menetunya kemana arah hidup semua, aktifitas ku lalui begitu saja seperti tanpa ada arti, seperti terjebak dalam pendewasaan yang terlalu cepat permikiranku membawaku pada kekolotan hidup.

Apa yang bias di harapkan dari hidup anak kampung, berhenti dari pengertian diri mungkin bukan salah mereka yang mengiringi tiap langkah perjalanaku dengan olokan dan cibiran yang menemaniku dari hari ke hari, cermin dari dangkalnya pemikiran pesikologi hidup, aku tumbuh menjadi anak yang jauh dari ketidakcukupan keluarga yang jauh dari keharmonisan yang semakin ku paksakan seuai keinginan yang kuharapkan.

Merenungi nasib bagaiman aku bisa hidup seperti yang ku inginkan, rutinitas menjadi pribadi diri yang tak terkendali, lingkungan yang semakin menyesak kan gerak langkahku membawaku pada pergaulan di luar sewajarnya anak seumuranku.

Bersambung,......

Mujtahidin Billah
Jombang, 24 Juli 2015 08:02pm
MAKE IT YOUR OWN

Saya katakan bahwa cita-cita dengan keadilan sosial adalah suatu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat teknologi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sistem Kapitalisme - Ir. Soekarno

Bloggertheme9.