Pengikut

Gambar tema oleh MichaelJay. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured

Addres :

Gempolmanis, Sambeng , Lamongan.
Phone : 08113531100
e-Mail : mediagmnews@gmail.com

Tugu Bandang Lele Oleh : Saiful Anam Assyaibani

Tugu Bandang Lele   Oleh : Saiful Anam Assyaibani   DI SUDUT timur bagian selatan alun-alun kota lamongan terdapat sebuah tugu. Tu...

Search This Blog

Ads 970x90

Iklan Atas Artikel

Popular Posts

Sepenggal Kisah Kyai Tar (Syaikh Muhtarullah Al Mujtaba Qoddsallah Sirruhuu)

Puisi : Termenung di Lembah Mimpiku

Halaman

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Pembayaran

Artikel Terbaru

Newsletter

PT. INDORAYA MEDIA NUSANTARA

SMART TECHNOLOGY SOLUTION


LET TECHNOLOGY WORK FOR YOU

(Biarkan Teknologi Yang Bekerja Untukmu)

View Our Work

Our Products And Services


Broadband ISP

Internet Service Provider

Check This Out
Smart City

System And Digital Content Aggregation

Check This Out
Billing Service Solution

Payment Point Online Bank (PPOB)

Check This Out
Consultant IT

We will customize it

Check This Out

Do you like our work so far? Let's talk about it

See us here

Vision and Mission


Vision

Inovasi adalah budaya. Dari budaya kami memberikan produk dan layanan advanced technology yang tepat untuk pelanggan. Pelanggan adalah mitra kerja kami. Untukitu kami berkomitmen menjalin kerjasama penuh integritas dari awal dan seterusnya. Bagi kami, puas tidak cukup. Bekerjasama dan menggunakan produk sertalayanan kami haruslah menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan.

Mission

Mengakomodasi kebutuhan, sumber daya, dan tujuan Universitas, Permerintah dan Perusahan dengan pelayanan profesional. Menciptakan masyarakat cerdas melalui produk-produk TI yang digunakan sehari-hari. Berpartisipasi aktif dalam komunitas global untukmembangun industri kreatif digital.

All News Information

Our Recent Posts

Minggu, 23 Februari 2020

Tugu Bandang Lele Oleh : Saiful Anam Assyaibani

Tugu Bandang Lele 

Oleh : Saiful Anam Assyaibani 

DI SUDUT timur bagian selatan alun-alun kota lamongan terdapat sebuah tugu. Tugu tersebut didirikan sebagai penanda perputaran tiga ruas jalan. Tidak begitu megah memang, cukup indah. Jika ada seseorang yang memperhatikan lebih dekat, maka dia akan mendapati tugu itu seperti helaian air mancur dengan dua jenis ikan di atasnya yang menandai ikon kota tersebut. Orang orang menyebutnya Tugu Bandeng lele. 

“Syukurlah ini masih ada pejabat yang mencintai seni,” ucap seorang seniman lukis yang wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Dia memandang tugu itu dengan tatapan sayu. 

“Berhala sahut kris dolok sambil terkekeh.” 

“Memangnya kamu tahu ada berhala berbentuk ikan?” 

“Itu!” Kris menunjuk tubuh dengan tangan kiri sambil menutupi matanya dengan tangan kanan. 

“Saya semakin yakin kamu tidak pernah melihat berhala.” 

“Tentu saja saya pernah melihatnya.” Kris menunjuk dadanya, dan Jumartono yang seniman lukis itupun mengerutkan alisnya dan menatap Kris dengan tajam, karena dia tidak pernah menganggap temannya sesama seniman lukis itu sebagai berhala. 
Tiba-tiba seekor burung gereja hinggap di kepala kris, mungkin burung itu mengira kalau rambut seniman drawing yang gondrong itu adalah sarang tempat berdiam. 

Kali ini giliran Jumartono yang terkekeh menertawai peristiwa seekor burung yang tersesat. “Tahan Keris, jangan bergerak!” Jumartono mengambil gawai di sakunya, kemudian membawa memosisikan diri sebagai fotografer. “Sumpah ini keren sekali.” Kris kaku semati tugu. 

“Bagaimana, apa saya sudah mirip berhala?” dan burung pun terbang tak bertuan.

Seperti orang senewen anyaran, Jumartono berlutut di hadapan Kris “Eli Eli Lama Sabachthani.” Lantas dengan hati yang girang, Jumartono menari seperti balerina mengitari Kris. 

“Jancuk! Sempel!” 

Lantas mereka berdua saling tertawa meski tidak tahu apa sebenarnya yang sedang mereka tertawakan. Yang jelas tidak semua seniman bercanda dengan cara yang gila. 

Lamongan, 2019 

Candrakirana Edisi 164 - Januari 2020 |



SAIFUL ANAM ASSYAIBANI, Bergiat bareng Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (KOSTELA) juga Literasi Institute Lamongan. Beberapa tulisannya tersiar di berbagai media pusat dan daerah. Karya-karyanya terantologikan tidak kurang dari 30 antologi bersama. Buku yang sudah terbit: Syahadat sukmah (La Rose), Tamasya Langit (Pustaka Pujangga), The Lamongan Soul (La Rose), The Art of Theater (Gitanjani), Seni Memahami Film (ScenMA). Namanya masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Sehari-hari bekerja sebagai tenaga pendidik bidang film, sastra, teater, dan jurnalistik di Yayasan Perguruan Matholiul Anwar Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan. 

PETA PERKEMBANGAN KOMUNITAS SASTRA DI LAMONGAN DAN SEKITARNYA

PETA PERKEMBANGAN KOMUNITAS SASTRA  
DI LAMONGAN DAN SEKITARNYA[1]
Oleh : Alang Khoiruddin[2]

*

Pembicaraan terkait dengan peta perkembangan komunitas sastra Indonesia di Jawa Timur sebenarnya telah lama dilakukan dan diupayakan oleh para pemerhati, terutama oleh para peneliti Balai Bahasa Jawa Timur. Dari hasil pembicaraan dan sejumlah penelitian tersebut barangkali dapat disimpulkan bahwa perkembangan sastra di suatu daerah memang tidak dapat dilepaskan dari peran komunitas sastra yang ada di masing-masing daerah. Tak terkecuali di Lamongan.

Lamongan yang secara geografis sebagai kabupaten kecil, agaknya perlu bersyukur dalam hal gerakan kebangkitan sastra dan kehidupan literasinya. Dibandingkan dengan daerah sekitarnya Tuban, Bojonegoro, Gresik, Jombang dan Mojokerto, boleh dibilang Lamongan memiliki infrastruktur kesastraan yang lebih memadai. Selain ditunjang oleh beberapa komunitas sastra dengan cakupan wilayah kerja yang berbeda, Lamongan juga diuntung-kuatkan oleh banyaknya penerbit buku sastra. Dua hal itulah yang barangkali dapat digunakan sebagai alat untuk melihat peta perkembangan komunitas sastra di Lamongan maupun di sekitarnya.

Komunitas Sastra- Teater Lamongan (Kostela)

Membicarakan geliat-kehidupan kesusastraan Lamongan hari ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran yang dimainkan oleh Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan). Kostela menjadi motor penggerak kehidupan sastra di Lamongan. Komunitas yang berdiri di penghujung tahun 1999 ini awalnya bergerak dalam bidang teater namun di kemudian hari lebih dikenal aktivitas kesusastraannya setelah bergabungnya Herry Lamongan. Lahirnya Kostela menandai babak baru perkembangan sastra Lamongan.

Setelah lahirnya Kostela, kehidupan sastra di Lamongan benar-benar tampak hidup dan dinamis. Sebagai ikon kebangkitan sastra Lamongan, setidaknya kehadiran Kostela dapat dicirikan ke dalam beberapa hal.

       Pertama, Kostela merupakan komunitas sastra Lamongan  yang lahir saat kegelisahan dan kelesuhan luar biasa. Belum adanya komunitas yang menjadi wadah berkumpul antar sesama orang yang telah melakukan proses kreatif. Masa sebelum ini yang ada hanya laku personal penulis, belum ada bimbingan, pergesekan pemikiran dalam komunitas yang memberikan wawasan bagi para  penulis yang terlibat di dalamnya. Setelah lahirnya Kostela kecakapan menulis ditularkan saling belajar, berbagi dan memberi apresiasi.

Kedua, Kostela-lah yang mulai membangun pondasi kreativitas dan apresiatif secara terstruktur. Meskipun Kostela adalah organisasi yang ‘tak jelas’, dalam arti organisasi yang tanpa ketua namun hampir seluruh kegiatan Kostela terstruktur rapi. Harus diakui komunitas ini mempunyai prestasi yang luar biasa dalam membangkitkan kreativitas, pengkaderan serta membangun wacana diskusi lewat Candrakirana  yang sampai hari ini telah lebih dari 150 purnama diadakan. Ketiga, Kostela memiliki jelajah yang lebih jauh dibanding komunitas-komunitas yang lain. Dalam istilah yang sering saya katakan Kostela dapat dianggap sebagai ‘poros’ atau induk komunitas sastra yang ada di Lamongan.

Lahirnya Kostela membawa perubahan besar bagi perkembangan sastra di Lamongan. Tidak hanya pada aspek kreativitas, kekaryaan, discoursus kesastraan tapi juga pada aspek emosional. Sejumlah kegiatan yang  pernah diadakan secara rutin oleh Kostela seperti Candrakirana, Safari Sastra, penerbitan majalah sastra Indupati, dan penerbitan buku menjadi semacam ‘pupuk’  yang mampu menumbuhkembangkan kehidupan sastra di Lamongan menjadi lebih subur. Setidaknya melalui kegiatan-kegiatan tersebut, sastra Lamongan mulai menggeliat, hidup, berkembang dan dikenal oleh publik sastra di luar Lamongan.

Setidaknya tercatat beberapa nama pesohor sastrawan yang pernah muncul dan terlibat dalam diskusi sastra Candrakirana di antaranya: Herry Lamongan, Cak Sariban, Nurel Jaissyarqi, Syarifuddin Deha, Timur Budiraja, Mardi Luhung, Gampang Prawoto dan baru-baru ini S. Jai. Dari Kostela pula lahir nama seperti Pringgo Hr, Sutardi, Bambang Kempling, Alang Khoiruddin, Ahmad Syauqi Sumbawi, Ahmad Zaini, Saiful Anam Assaibani, Imamuddin SA, Rodli Tl, A. Rodhi Murtadlo, Haris Del Hakim, Heri Listianto dan lain-lain.
                             
Peta Perkembangan Komunitas Sastra Lamongan Mutakhir

Kiprah Kostela sebagai penggerak sastra di Lamongan sampai hari ini belum tergantikan. Meski sempat beberapa kali mandeg dalam menjalankan aktivitas berkeseniannya, namun komunitas ini tetap melakukan aktivitas-aktivitas dalam ruang yang terbatas.  Setelah tahun 2009 para anggotanya lebih banyak melakukan aktivitas kreatifnya dengan membentuk komunitas baru dan menjadi pendorong-penggerak sastra di ‘ruang’ barunya masing-masing. Misalnya, Rodli Tl yang kemudian memfokuskan kegiatannya di Sanggar Bahasa Kampung ‘Sangbala’, Nurel Javisyarqi dengan Penerbit Pustaka Pujangga, Forum Sastra Lamongan dan beberapa blog sastranya, Ahmad Sauqi Sumbawi dengan Rumah baca-belajar Semesta Hikmah, Alang Khoiruddin dengan Forum Penulis dan Pegiat Literasi (FP2L) Lamongan dan penerbit Pustaka Ilalang-nya, Saiful Anam dengan sanggar LA Ros dan Literacy Institut-nya dan lain-lain.

Selain beberapa komunitas sastra di atas, terdapat juga komunitas yang secara spesifik memfokuskan kerjanya pada ruang terbatas yaitu Komunitas GU yang dimotori oleh Nur Kholis Huda dan Indie literary Club (ILC) yang didirikan oleh Iva Titin Shovia dan Fatimah Kimora. Komunitas GU berdiri pada tahun 2016, beranggotakan para guru Sekolah Dasar yang memiliki hobi menulis. Oleh karena itu tak heran jika Komunitas ini memfokuskan kerjanya pada pendokumentasian karya-karya sastra maupun esai pendidikan karya para guru di tingkatan Sekolah Dasar terutama sekolah negeri. Sedangkan Indie literary Club (berdiri tahun 2018) memulai kegiatannya dengan mengadakan diskusi dan pelatihan menulis melalui media online. Komunitas yang kebanyakan beranggotakan kaum perempuan ini sudah beberapa kali menerbitkan buku hasil dari diskusi dan pelatihan menulis via online.

Perkembangan komunitas sastra di Lamongan tidak hanya menyasar pada penulis yang tinggal di jalur pertengahan kota tapi juga merata penyebarannya di Lamongan bagian utara-pantura. Tahun 2018 lahir komunitas Rumah Budaya Pantura yang dibina oleh Hari Nugroho. Salah satu pegiat komunitas ini adalah Deni Jazuli seorang seniman jebolan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Komunitas seni, budaya dan literasi ini diinisiasi oleh Japfa Foundation, sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan SDM dari aspek budaya dan seni terutama yang ada di daerah pantura-Paciran Lamongan. 


NO
NAMA KOMUNITAS
ALAMAT
PENGGERAK
TAHUN BERDIRI
1
Komunitas Sastra-Teater Lamongan (Kostela)
Cuping Madulegi Sukodadi
Pringgo, Sutardi, Herry Lamongan, Bambang Kempling, Alang Khoiruddin
1999
2
Forum Sastra Lamongan
Kendal Kemlagi Karanggeneng
Nurel Javissyarqi
2004
3
Sangbala
Desa Canditunggal
Kalitengah
Rodli Tl
2007
4
Rumah Baca – Belajar SEMESTA HIKMAH
Juwet Kembangbahu
Lamongan
A Syauqi Sumbawi
2009
5
KOMUNITAS GU
Perumnas Made Lamongan
Nur Cholis Huda
2016
6
Forum Penulis dan Pegiat Literasi Lamongan (FP2L)
TB. Pustaka Ilalang
Jl. Airlangga Sukodadi
Alang Khoiruddin
2017
7
Rumah Budaya Pantura
Kematren paciran lamongan
Hari Nugroho
2018
8
Rumah Baca
API Literasi
Jl Ki Hajar Dewantara Solokuro Lamongan
FARIS
2018
9
Literacy Institut
Simo Karanggeneng
Saiful  Anam
2018
10
Indie literary Club (ILC)
Karangbinangun Lamongan
Iva Titin Shovia
2018


Komunitas Penerbit Buku Sastra di Lamongan

Fenomena unik dan menarik yang terjadi di Lamongan bersamaan dengan munculnya komunitas sastra adalah juga munculnya komunitas penerbit buku-buku sastra. Saya katakan komunitas penerbit sastra karena sebuah komunitas sastra tidak harus memiliki struktur organisasi yang jelas, jika ada lebih dari satu orang melakukan satu aktivitas rutin bersama dengan minat yang sama  yaitu sastra maka dapat dikatakan itulah komunitas sastra. Bahkan jika itu hanya dilakukan oleh seorang diri maka tetap dapat dikatakan sebagai komunitas. Hal ini pernah dilakukan oleh  Afrizal Malna, ia membentuk Komunitas Sepatu Biru yang hanya beranggotakan dirinya sendiri. Sebuah komunitas akan terus hidup jika ada individu yang suka rela menggerakkan komunitasnnya. Inilah ciri utama sebuah komunitas.

Pada awal tahun 2000-an, komunitas Kostela dan sejumlah individu di Lamongan, seperti Nurel Javissyarqi, Alang Khoiruddin, Sauqi Sumbawi dengan berani dan suka rela menggerakkan dunia penerbitan yang ada di Lamongan. Mereka menulis karya sendiri, memfoto copy buku sendiri, menyablon sampul, menjilid dengan lem rajawali, memotong dengan carter dan memasarkan buku-buku mereka sendiri. Sebuah kerja sulit pada waktu itu untuk bisa menerbitkan buku dan membuat penerbit sendiri.

Fenomena penerbitan di Lamongan yang demikian pernah mendapatkan perhatian banyak pihak, termasuk oleh almarhum Fahrudin Nasrulloh seorang pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang. Dalam makalahnya yang berjudul Dewan Kesenian dan Problematik Sastra Jatim pada sub judul Penggerak Sastra Lokal, Ia mengatakan bahwa “Lamongan adalah gudangnya sejumlah penulis yang berkarya dan menerbitkan karya dengan koceknya sendiri. Kita bisa menyebut Nurel Javissyarqi dengan Penerbit Pustaka Pujangga-nya, Alang Khoiruddin (Penerbit Pustaka Ilalang), AS Sumbawi (Penerbit Sastranesia), dll. Puluhan karya sastra baik dari penulis Lamongan sendiri maupun dari luar banyak yang mereka terbitkan.”

Selain komunitas sastra Kostela, penerbit-penerbit sastra lokal ini diakui atau tidak telah memberikan kontribusi yang tak kalah besarnya dalam menggerakkan sastra di Lamongan. Hanya saja memang tidak semua penerbit itu dapat terus eksis. Namun dengan munculnya penerbit-penerbit tersebut sejumlah teks-teks sastra dari Lamongan bisa terdokumentasikan dan dibaca oleh banyak orang. Sampai hari ini setidaknya tercatat beberapa penerbit yang ikut berkontribusi dalam mengembangkan dunia kesusastraan di Lamongan seperti Pustaka Pujangga, Pustaka Ilalang, Sastranesia, Mitra Kreatif, Pagan Press, Pustaka Djati, Pustaka Wacana, Pustaka Progresif, Penerbit Nun, Pustaka GU, dan lain-lain.

Keberadaan Komunitas Sastra di Sekitar Lamongan

Komunitas-komunitas sastra di sekitar Lamongan yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah komunitas-komunitas sastra yang ada di wilayah kabupaten Tuban, Gresik, Bojonegoro, Jombang dan Mojokerto. Hal ini dikarenakan sejumlah kabupaten tersebut secara geografis bersebelahan dengan kabupaten Lamongan. Keberadaan komunitas sastra di Tuban jika diamati baru menampakkan geliatnya pada sekitar tahun 2009-an dengan lahirnya Komunitas Sanggar Sastra (KOSTRA) Unirow Tuban. Komunitas ini dibina oleh Suhariadi seorang dosen sastra dan budayawan Tuban yang cukup berpengaruh. Keberadaan komunitas ini seolah kehilangan gaungnya tatkala ditinggal anggota generasi awalnya seperti Ahmad Moehdor al-Farisy, Aksin Taqwan Embe, dan meninggalnya Suhariadi selaku pembina. Meski telah ada beberapa komunitas sastra yang lain semisal Komunitas Langit Tuban, Komunitas Kali Kening di Bangil Tuban dengan pegiatnya Joyo Juwoto, Komunitas Sastra Pesisir, Komunitas Pelopor Dongeng Anak Tuban (Kompor Donat), Gerakan Tuban Menulis, TIK Tuban, namun dalam hal perkembangan kehidupan sastranya boleh dibilang masih kalah cepat dengan daerah sekitarnya seperti Lamongan, Bojonegoro dan Gresik. Hal ini diakui oleh Dr. Sariban, seorang akademisi, pegiat dan kurator sastra Tuban. Menurutnya: “Tuban sebagai kabupaten pesisir dalam gerakan sastra pantura agaknya boleh dibilang berlari estafet dalam takdir urutan belum terdepan. Ini jika dibandingkan dengan Gresik, Lamongan dan Bojonegoro.”

Komunitas Sastra Gresik

Sastra Gresik sebenarnya diuntungkan dengan adanya sastrawan terkenal Mardi Luhung yang karya-karyanya sering dimuat di Kompas. Namun gerakan personal Mardi Luhung saja tidak cukup untuk menghidup kembangkan kesusastraan di Gresik. Nafas Kehidupan sastra Gresik tetap bergantung pada peran komunitas-komunitas sastra semisal : komunitas Sanggar Seni Cager atau Cakrawala Gresik yang dipelopori oleh Lenon Machali Dewi Musdalifah. Ada juga komunitas pegiat budaya Mata Seger yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Mataseger (Masyarakat Pecinta Budaya Gresik, 2014) yang diketuai Kris Adji yang berkonsentrasi terhadap persoal budaya di Gresik, terutama budaya masa lampu, Sanggar Pasir beralamat di Mulyosari Ujung Pangkah Gresik, Teater Ndrinding Zuhdi swt, dan Kajian Sastra Samrotul Fuadah (KASADA) Sedayu Gresik yang dimotori Yusak.

Komunitas Sastra Bojonegoro

Geliat sastra Bojonegoro selama beberapa dasawarsa lebih dikenal dengan sastra Jawa-nya. Hal ini dikarenakan konsistensi komunitas Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB) yang sejak 6 Juli 1982 sampai sekarang tak henti-hentinya menjaga, mempertahankan sekaligus mengembangkan bahasa Jawa di Bojonegoro dan sekitarnya. Oleh karenanya tak jika Bojonegoro dibilang sebagai gudangnya sastrawan Jawa. Di sana ada JFX Hoery, Djayus Pete, Nono Warnono hingga Gampang Prawoto. Terkait dengan keberadaan komunitas sastra yang lain, beberapa tahun belakangan ini muncul komunitas-komunitas sastra berbahasa Indonesia, di antaranya Komunitas Sastra Bojonegoro (PSB), Komunitas Sastra Etnik juga komunitas-komunitas rumah baca masyarakat. Setidaknya sampai hari ini terdapat 154 rumah baca di Bojonegoro. Ada Rumah Baca Kinanthi yang didirikan Emi Sudarwati, Rumah Litersi KBM (Kita Belajar Menulis) di Kepohbaru yang dimotori oleh Selamet Widodo dan lain-lain. Selain beberapa komunitas dan rumah baca masyarakat, perkembangan kehidupan sastra Bojonegoro juga tidak lepas dari peran serta penerbit yang ada di sana seperti kelompok penerbit Majas Group milik Jonatyhan Raharja dan Pustaka Intermedia yang dipimpin Amin Mustofa.

Komunitas Sastra Jombang

“Wajah Komunitas Jombang” tulisan Purwanto dan Siti Sa’adah yang termuat di website sastra-indonesia.com setidaknya dapat kita gunakan untuk melihat keberadaan komunitas-komunitas sastra yang ada di Jombang. Menurut keduanya, sastra Jombang belum dapat dikatakan mengalami perkembangan yang signifikan. Meski demikian, ada hal yang membanggakan yaitu munculnya banyak komunitas sastra. Di antara komunitas sastra yang paling menonjol di Jombang adalah Komunitas Lembah Pring (2010) yang dimotori oleh Jabbar Abdullah dan alm. Fahrudin Nasrullah. Ada juga komunitas LISWAS (Lingkar Studi Warung Sastra) dengan ketuanya Aditya Ardhi Nugroho-Genjus, Sanggar Kata yang dikelolah Fathoni Mahsun, Luthfi Aziz, Budi Mardiono, Sanggar Belajar Bareng Gubuk Liat –yang digerakkan oleh Rahmat Sularso, M Rifqi Rahman, Komunitas Pena (Koma, 2007) yang lahir di ponpes Bahrul Ulum, Sanggar Sinau Lentera (SSL, 2010) yang diketuai Hadi Sutarno alias Wong Wingking. Selain beberapa komunitas di atas, ada juga Komunitas Alif yang diasuh Edi Hasoyo, kelompok Alifna Qolba sebuah komunitas pelajar siswa SMA 1 Muhamadiyah diinisiasi oleh remaja bernama Mahendra,  Komunitas Lembah Pena Endhut Ireng (2009) - Aang Fatihul Islam, Komunitas Bunga Kecil-nya Andhi Setya Wibowo.

Komunitas Sastra Mojokerto

Aming Aminoedhin, presiden penyair Jawa Timur yang mengaku juga orang Mojokerto pernah membuat sepenggal catatan Sejarah Sastra Mojokerto. Dalam catatan singkat tersebut terekam geliat komunitas dan perkembangan sastra Mojokerto. Dimulai dengan terbentuknya Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto,1996) yang meleganda sampai pada komunitas-komunitas sastra mutakhir.

Perkembangan komunitas sastra Mojokerto boleh dibilang dinamis. Setelah Forasamo beberapa komunitas sastra dan musik bermunculan. Misalnya Forum Sebrang Dalan, GePapat, Girilaya, Komunitas Arek Japan yang dimotori oleh Ahmad Fatoni, Komunitas Sastra Pondok Kopi yang digeliatkan oleh Kiki Efendi, Dadang Ali Murtono. Belum lagi munculnya Lingkar Studi Sastra Setrawulan dan Penerbit Temalitera milik Muhamad Asrori menjadikan geliat sastra di Mojokerto semakin hidup. Lebih semarak dan hidup lagi ketika para sastrawan mudanya mengemas kegiatan sastranya dengan tajuk yang menarik : Terminal Sastra kerjasama dengan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Mojokerto, Serikat Buku, Kelir (Kelas Literasi Remaja), Kelana (Kelas Litersi Anak), Kemecer (Kelas Menulis Cerpen), Ronda Sastra dan lain-lain.


 Lamongan, 24 November 2019


[1] Disampaikan pada acara Diskusi Kelompok Terpumpun Penguatan Program Kerja Balai Bahasa Jawa Timur untuk Perlindungan Bahasa dan Sastra Indonesia. Balai bahasa Jawa Timur,  Senin 6 November 2019.
[2] Lahir tanggal 17 Agustus 1978 di sebuah desa terpencil Kepudi Bener Turi Lamongan. Belajar menulis pada Komunitas Sastra Teater Lamongan (Kostela, 1999).  Sehari-hari menjadi Cantrik Kostela dan koordinator Forum Penulis dan Pegiat Literasi Lamongan (FP2L).  Direktur Pustaka Ilalang Group.

Senin, 02 September 2019

Sepenggal Kisah Kyai Tar (Syaikh Muhtarullah Al Mujtaba Qoddsallah Sirruhuu)

Riwayat Hidup Kiai Muchammad Muchtar Muthi

Kiai Muchammad Muchtar Muthi lahir pada hari Ahad Kliwon menjelang fajar tanggal 28 Robiul Akhir 1347 H, bertepatan pada tanggal 14 Oktober 1928, di Dukuh Losari Rowo, Desa Losari, Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang. Ia adalah putra keenam dari pasangan Haji Abdul Muthi dan Nyai Nashicah. Pada hari kelahirannya, menurut cerita Ibunda Nyai Nasichah dibarengi dengan suatu bencana alam yang melanda Jombang. Penduduk menjadi ribut karena berpuluh-puluh rumah hancur berantakan. Puluhan manusia terenggut jiwanya akibat kejadian itu. Orang-orang menyebut kejadian itu dengan sebutan Prahoro yang berarti keributan. Hampir semua rumah-rumah penduduk hancur diterpa angin yang sangat dahsyat. Hanya ada sebuah rumah yang masih berdiri tegak saat itu yaitu rumah tempat kelahiran kiai Muchammad Muchtar Muthi dilahirkan.

Kiai Muchammad Muchtar Muthi memiliki berbagai macam Hariqatul ‘adah atau sering disebut dengan hal-hal diluar kebiasaan. Saat ia masih kecil memiliki perilaku dan kebiasaan yang tidak biasanya dimiliki oleh seorang anak kecil. Adapun Hariqatul ‘adahnya antara lain sebagai berikut:

Tidak menyukai makan nasi dan minum air putih Tidak seperti orang Indonesia pada umumnya yang menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Justru kiai Muchammad Muchtar Muthi tidak suka makan nasi. Bahkan bertahun-tahun ia tidak pernah makan nasi putih. Makanan yang ia konsumsi saat itu berupa kue Brubi (sejenis Nagasari, makanan pisang yang dibungkus tepung dan daun pisang). Termasuk hal aneh lagi ia juga tidak suka minum air putih. Ia lebih suka minum teh dalam kesehariannya. Namun ketika ia berusia 8 tahun sudah mulai makan nasi.

Berani dan Cerdik Sejak kecil kiai Muchammad Muchtar Muthi memang tidak mengenal rasa takut meski ia sebenarnya juga sering menemui hal-hal yang menakutkan seperti melihat hantu, melihat jangkrik yang aneh. Kecerdikannya juga sudah tertanam mulai kecil, hal ini terlihat ketika ia menggoda polisi Belanda, ia juga pernah mengetahui ibunya pergi keluar rumah padahal ibunya tidak izin, selain itu ia pernah menggembosi ban motor pasangan suami istri karena tidak membawakannya kue dan lain-lain.

Gemar Wayang Kulit Sesuatu yang aneh lagi yang dimiliki kiai Muchammad Muchtar Muthi adalah menyukai wayang kulit. Jarang sekali anak kecil menyukai wayang kulit, kebanyakan orang dewasa yang lebih menyukai. Kegemaran ia terhadap wayang kulit memang luar biasa. Tak jarang ia rela berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh hanya sekedar melihat pertunjukan wayang kulit. Selain itu, ia juga mempelajari tentang seluk beluk wayang kulit dan juga menjadi wiyogo atau panjak wayang kulit.

Pendidikan

Meskipun bersekolah di lembaga pendidikan formal adalah suatu hal yang tidak disukai oleh kiai Muchammad Muchtar Muthi tetapi akhirnya ketika berusia lebih dari 8 tahun dengan berat hati akhirnya ia mau bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Ngelo yang berjarak kurang lebih 2 km sebelah selatan Losari. Masa belajar di Madrasah Ibtidaiyah Ngelo, Losari berakhir karena dibubarkan oleh Jepang yang masuk Indonesia. Kemudian menginjak usia 15 tahun, kiai Muchammad Muchtar Muthi memasuki babak baru dalam kehidupannya yaitu nyantri di pondok pesantren Rejoso (Darul Ulum) Peterongan Jombang. Ketika nyantri di pondok tersebut ia mampu menghafal Alquran berjumlah 12 Juz. Sehingga jika ditotal dengan jumlah hafalan yang sebelumnya ia ke Rejoso 6 Juz, maka semua hafalannya 18 juz.

Ketika di pondok Rejoso ia selalu membuat ulah dan masalahmasalah yang mengganggu orang-orang yang ada di pondok tersebut. Akhirnya, pengurus pondok melakukan sidang dengan kesimpulan akan mengeluarkan kiai Muchammad Muchtar Muthi pada hari Sabtu. Namun,kiai Muchammad Muchtar Muthi lebih dulu keluar pada hari Jumat karena itu lebih baik daripada menunggu dikeluarkan. Setelah keluar dari pondok Rejoso, ia pindah ke pondok pesantren Tambak Beras (Bahrul Ulum). Sebagaimana di pesantren Rejoso, di Tambak Beras pun ia tidak ada minat untuk mempelajari pelajaran-pelajaran yang ada di sana. Selama di sana ia hanya menghabiskan waktu untuk menghafal Alquran. Disamping mempelajari ilmu keagamaan ia juga mempelajari ilmu kanuragan kepada H. Ahmad di Krempeng desa Kembangan sebelah utara Trosobo Sidoarjo.

Kiai Muchammad Muchtar Muthi nyantri di pondok Tambak Beras juga tidak terlalu lama yaitu selama kurang lebih 8 bulan. Pesantren Tambak Beras bagi kiai Muchammad Muchtar Muthi tetap memiliki kesan tersendiri, bahkan setelah keluar dari sana ia masih tetap berusaha menjalin komunikasi dengan pesantren.

Perjuangan Hidup

Pada hari Jumat Pahing tepatnya tanggal 21 Syawal 1367 H atau tanggal 27 Agustus 1948 H. Abd. Muthi atau Cholil atau Ischak, abah dari kiai Muchammad Muchtar Muthi putra dari kiai Ahmad Syuhadak dipanggil menghadap ke hadirat Allah Swt. dengan meninggalkan belasan anak dari dua orang istri yakni Nyai Marfuah dan Nyai Nasichah. Sewaktu H. Abdul Muthi wafat, usia kiai Muchammad Muchtar Muthi menapaki usia 20 tahun, usia yang boleh dibilang relatif dewasa. Kondisi ekonomi keluarga kiai Muchammad Muchtar Muthi sepeninggalan wafat abahnya sangat jauh berbeda bila dibanding dengan pada saat abahnya masih hidup. Hampir tidak ada satupun perabot rumah tangga yang bisa dijual untuk menutupi kebutuhan keluarga. Sebab utamanya adalah semua harta kekayaan H. Abdul Muthi telah dikuasai dan selanjutnya dijual habis oleh kakaknya (dari ibu sebelumnya) yang bernama H. Abdul Aziz sesaat setelah H. Abdul Muthi meninggal.

Guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, kiai Muchammad Muchtar Muthi dan adiknya yang bernama Muchayyarun mencoba mengadu nasib berjualan ikan asin dan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Tidak hanya itu, disela-sela ia berjualan ikan asin, ia juga menyempatkan diri untuk berjualan daging yang diambil dari kakak perempuan, putri pertama Nyai Nasichah yang bernama Mustiwayah. Perjalanan ia untuk mencarikan nafkah Ibu dan adik-adiknya dikerjakan dengan tabah hati, meskipun harus menghadapi banyak hambatan.

Kiai Muchammad Muchtar Muthi juga semangat dalam melawan penjajah Indonesia pada saat itu. Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, kiai Muchammad Muchtar Muthi sangat gembira sekali. Dua tahun kemudian tepatnya pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda mencoba melakukan penjajahan babak kedua dengan sebutan Agresi Militer ke-1. Namun, Allah Swt. tidak meridhoi segala usaha yang dilakukan Belanda. Setahun kemudian Belanda mencoba menebus kembali dengan memanfaatkan situasi yang tidak stabil setelah adanya pemberontakan PKI 1948 yang didalangi oleh Muso, Belanda melakukan Agresi Militer ke-2. Namun, lagi-lagi Allah Swt. tidak meridhai usaha Belanda. Adanya kejadian itu dengan sendirinya membangkitkan semangat dalam diri kiai Muchammad Muchtar Muthi untuk mempertahankan negara Indonesia dan berusaha selalu mencintai tanah air. Segeralah ia ikut bergabung dengan pasukan-pasukan gerilya di daerah Ploso seperti Pojok Klitih dan Mlaten.

Kiai Muchammad Muchtar Muthi juga melakukan pengembaran belajar ilmu Tasawuf. Disela-sela pengembaraan ini, ia bertemu dengan banyak ulama, khususnya ulama-ulama sufi. Salah satu ulama yang ia temui dan kemudian menjadi maha guru tarekat Shiddiqiyyah adalah syekh Syueb Jamali. Dari syekh Syueb Jamali inilah kiai Muchammad Muchtar Muthi mendapatkan ajaran tarekat Shiddiqiyyah.

engikut Tarekat Shiddiqiyyah saat itu cukup menarik karena berasal dari kalangan orang-orang yang menderita penyakit kronis, seperti bekas pecandu minuman keras dan mereka yang dibebani oleh perasaan dosa atau frustasi karena kegagalan dalam bidang politik dan perdagangan. Kiai Muchammad Muchtar Muthi memberikan resep dan saran-saran praktis agar mereka memperkaya dan memperhalus kehidupan spiritualnya. Pertama kali mereka harus bertaubat, kemudian mereka diajarkan melakukan zikir secara rutin, sesudah melakukan sholat wajib.Tarekat Shiddiqiyyah yang dipimpin oleh kiai Muchammad Muchtar Muthi dikenal luas sebagai ahli pengobatan Batin.44 Ajaran-ajaran tauhid disajikan dalam bentuk yang banyak disesuaikan dengan budaya masyarakat Jawa, dan amalan-amalan sufi yang diajarkan terdiri dari membaca ratib-ratib panjang, yang diikuti dengan latihan pengaturan nafas.

Tarekat Shiddiqiyyah mampu berkembang secara positif di masyarakat atas kemampuannya meredusir perubahan dan perkembangan masyarakat dalam sistem ajarannya. Pokok ajaran Tarekat Shiddiqiyyah lebih menekankan pola hubungan hamba kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw., melalui amaliyah zikir dan wirid asma Allah maupun doa yang terkandung dalam wahyu Alquran salah satunya Doa Kautsaran.

Tarekat Shiddiqiyyah telah berkembang menjadi suatu kelompok yang memiliki sejumlah pengikut, norma, peranan sendiri sebagaimana terlihat dalam ajaran dan aktivitasnya. Terlepas dari perjalanan sejarahnya sedikit banyak diwarnai konflik dengan kelompok tarekat lain maupun masyarakat islam lainnya. Sebenarnya tarekat ini memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui model-model kepemimpinan, karakteristik pengikut, usaha-usaha pendidikan, organisasi dan usaha-usaha perekonomian yang dilakukannya.

Mendirikan Pondok Pesantren 

Di desa Losari, kecamatan Ploso, kabupaten Jombang inilah kiai Muchammad Muchtar Muthi mulai menyebarkan Doa Kautsaran ke beberapa orang yang ingin mengamalkan bersamanya. Saat awal ia merasa kesulitan untuk mengajak warga untuk mengamalkan Doa Kautsaran. Warga Losari termasuk masyarakat yang abangan (masyarakat yang tidak mencerminkan nilai-nilai agamis), sehingga masih belum mengenal betul akan agama Islam kebanyakan dari mereka menganut aliran mistis. Hal ini terjadi karena masyarakat belum pernah tersentuh dengan ajaran-ajaran Islam.


Lokasi daerah Losari, kecamatan Ploso, kabupaten jombang ini jauh dari pondok pesantren. Berbeda dengan Jombang bagian Selatan justru banyak sekali berdiri pondok pesantren. Seiring berjalannya waktu, akhirnya perubahan pun terjadi di daerah ini. pada saat pasukan Diponegoro mengalami kekalahan, banyak diantara prajuritnya hijrah ke arah Jawa Timur dan salah satunya ke daerah Losari Ploso dan sekitarnya. Semenjak saat itu sedikit demi sedikit daerah Losari Ploso mengalami perubahan dalam hal keagamaan. Selain itu juga ditandai dengan berdirinya pondok pesantren Kedungturi di Losari Ploso yang didirikan oleh kiai Ahmad Syuhadak.

Kesulitan mengajak masyarakat untuk mengamalkan Doa Kautsaran, akhirnya kiai Muchammad Muchtar Muthi memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah pondok pesantren. Sekitar tahun 1963, kiai Muchammad Muchtar Muthi bersama dengan para muridnya bergotong-royong memindahkan dan memperbaiki tempat wudhu dan sumur di masjid, yang semula berada di depan masjid dipindah ke samping kanan masjid. Masjid itu digunakan kegiatan pengajian umum secara rutin setiap hari Jumat malam Sabtu.

Sekitar tahun 1967, perbaikan masjid itu kembali dilakukan. Mengingat perkembangan murid-muridnya yang semakin hari semakin banyak, sedangkan tempat yang ada kurang memenuhi syarat dikarenakan bangunan yang ada hanyalah sebuah rumah keluarga dan masjid. Maka ia mempersiapkan lokasi yang akan didirikan pesantren secara tahap demi tahap. Mula-mula yang didirikan adalah sebuah gubuk. Letaknya kira-kira 150 m sebelah barat masjid. Gubuk itu terbuat dari bambu, beratapkan duduk (serat pohon aren berwarna hitam) menghadap ke Timur, ukuran 5 x 3 m. Gubug ini dibangun tahun 1968. Gubug inilah yang merupakan cikal bakal pesantren Majmal Bahrain. Adapun gubug ini diberi nama Gubug Maulana Malik Ibrahim.

Di belakang rumahnya ada tanah pekarangan yang luasnya kira-kira 0,5 hektar. Sebagian besar pekarangan itu ditanami pohon salak dan di sudutsudut banyak tumbuh rumpun bambu atau barongan. Di lokasi inilah pada tahun 1972 dibangun gedung bertingkat bernama Jamiatul Mudzakirin. Gedung itu dibiayai oleh kiai Muchammad Muchtar Muthi, sedangkan yang mengerjakan pembangunannya adalah murid-muridnya yang diselesaikan pada tahun 1973.

Setahun kemudian yakni tanggal 3 Januari 1974 dimulai pembangunan pondok untuk para murid. Pondok tersebut dibangun dengan bahan bangunan dari bambu, genting tanah liat dan alasnya memakai kayu jambe. Bentuk bangunan berupa rumah panggung setinggi 60 cm dan membujur dari barat ke timur, menghadap ke arah selatan. Ada satu kamar lagi yang di bangun terpisah. Letaknya di sebelah Timur makam kiai Ahmad Syuhadak. Bangunan pondok tersebut selesai tanggal 2 Mei 1974 yang diberi nama pondok pesantren Majmal Bahrain.

Nama-nama yang digunakan pada setiap kamar pondok adalah nama waliyullah yang telah berjasa besar dalam sejarah pesantren Indonesia. Kemudian bangunan ini dikenal dengan nama Gubug Walisongo. Tahun-tahun berikutnya bermunculan pula bangunan-bangunan yang ada di pesantren Majmal Bahrain dengan penyiapan lahan yang cukup luas untuk lokasinya.

Riwayat penamaan Majmal Bahrain dimulai ketika kiai Muchammad Muchtar Muthi masih di Lamongan. Saat itu ia masih mengajar Madrasah Islamiyah di Lamongan. Pada suatu waktu ditahun 1952 ia membaca sebuah hadis. Terkesan dengan hadis tersebut, maka mulai tahun 1952 ia selalu memabaca surat Kahfi setiap hari Jumat. Surat Kahfi itulah yang ia baca berulang-ulang setiap hari Jumat. Namun anehnya, ketika membaca ayat yang ke-60 bergetarlah hatinya. Adapun ayatnya sebagai berikut:


Artinya: dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. 3

ka sampai kalimat Majmal Bahrain, hatinya bergetar. Padahal waktu itu belum ada rencana untuk mendirikan pesantren. Saat itu keadaan Ploso masih berupa sawah-sawah, masih seperti hutan. Setiap malam Jumat ia senantiasa membaca surat Kahfi yang mengandung rahasia yang sangat besar. Setelah itu kemudian timbul di dalam hatinya bahwa jika seandainya ada Pesantren di Losari Ploso Jombang, ia atau keluarganya bisa mendirikan pesantren maka akan diberi nama Majmal Bahrain.

 Harapannya memberi nama tersebut karena berharap dari dua lautan itu yaitu lautan ilmu yaitu ilmu syariat dan ilmu hakikat muncul berlianberlian ruhaniyah. Ia juga berharap siapapun yang belajar di Majmal Bahrain bisa menjadi berlian-berlian yang bisa bersinar dimasyarakat. Sehingga dari pesantren Majmaal Bahrain inilah ia juga mengamalkan Doa Kautsaran bersama santri-santrinya yang bertempat tinggal di pondok pesantren tersebut. Tidak hanya berasal dari Losari saja melainkan di luar daerah juga banyak. Mengingat perkembangan pondok pesantren dan ajaran yang diajarkan mampu menarik peminat untuk belajar didalamnya.

Copyringh © 2016

Sumber :
NIA SUSANTI UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
Bapak Adib. Kholifah Shiddiqiyyah. Wawancara. Ploso, Jombang. 29 September 2015.

Abdullah, Taufik. Sejarah dan Masyarakat. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1987. 
Almusjtaba, Muchtarulloh. Doa-doa Muqoddimah Kautsaran dan Syair Pohon Shiddiqiyyah. Jombang: Al-Ikhwan. Tanpa Tahun.
_________. Kautsaran dan Dasar-dasar Wirid Kaustaran. Jombang: Al-Ikhwan. 2012. 
_________. Sejarah Penyusunan Doa Kautsaran. Jombang: Al-Ikhwan. 2014. 
Anas, Abu. Ulasan Lengkap Tawassul. Jakarta: Darul Haq. 2013. 
Aqil bin Ali Al-Mahdi, Muhammad. Mengenal Tarekat Sufi. Jakarta: Pustaka Pelajar, 2001. 
Bruinessen, Martin Van. Kitab Kuning Pesantren dan Thoriqot. Bandung: Mizan. 1995. 
Dhofier, Zamachsyari. Tradisi Pesantren. Yogyakarta: LP3ES. 1980. 
Djarwanto. Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penelitian Skripsi. Jakarta: Liberty. 1990. Endraswara, Suwardi. Metodologi Penelitian Kenudayaan. Yogyakarta: Pustaka Widyautama. 2006. 
Isa, Ahmad Bin Abdullah. Ensiklopedi Doa dan Wirid Shohih. Surabaya: Pustak Elba. 2006. 
Kartodirjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia. 1993. 
Kasdi, Aminuddin. Memahami Sejarah. Surabaya: UUP. 2011. 
Mulyati, Sri. Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2004. Mu’thi, Muchammad Muchtar. Informasi tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah Jilid ke-3. Jombang: Al-Ikhwan. 2005. 
Nasih, A. Munjin. Sepenggal Perjalanan Hidup Sang Mursyid. Jombang: Al-Ikhwan. 2006.


Selasa, 27 Agustus 2019

Puisi : Termenung di Lembah Mimpiku


aku terlahir dari buaianmu
awal keahiran insan
bersama amanat kelahiranku
kutanyakan pada diriku

siapa aku ?
untuk apa aku?
dari mana aku?

aku lah Billah yang terlahir karna ridhomu
akulah Billah yang  menujumu
akulah Billah yang menjadi kekasihmu

Billah yang menari di pelataran rindu
menuju jatidiri mengharap ridhomu
akulah billah si anak senja menunggu rindu
rindu haus akan kekasih
termenung di lembah mimpiku

Jombang, 24 Juli 2015 08:09pm

TERJEBAK DI LEMBAH IMPIAN (Otobiografi)

Semua berawal dari kelahiranku titik di mana arah hidupku membawaku sampai saat ini, aku terlahir sekitar 3 dekade kehidupan dari keluarga kecil yang serba keterbatasan yang jauh dari perkotaan berteman hutan dan persawahan.

Awal dari sebuah pemikiran anak desa yang membawa cita cita yang tidak kesampaian yang harus tertatih tatih mencari jati diri yang harus mengambil arah berlawanan untuk menuju keinginan lahirnya.

Ketika aku sekolah di Madrasah yang ngak jauh dari rumahku aku menjadi anak yang agamis yang penuh dengan atur dengan tatanan norma pedesaan.

disitulah aku ingat jelas sangat jelas sekali hidup anak desa yang terjadwal dari pagi bersekolah siang mengaji sampai sore kemudian malam pun tak kurang banyak kegiatan dari mengaji tahtim, bersolawat diba’ dan berlanjut hinga saat malam membawaku pada mimpi mimpi dan hayalan sang anak desa.

Semasa di madarasah guruku bercerita kisah kecerdasan Abunawas bagaiman ia mampu mengakali hidupnya bahkan tidak ada yang sangup mengalahkanya, timbul pertanyaan di benakku sewajarnya anak seumuranku.

Apa benar abunawas itu ada?
Sepintar itukah?
Belajar di mana ilmunya?

Hinga sampai pada kesimpulan aku ingin seperti abunawas mampu merubah hidupnya sekehendaknya bahkan dalam cerita cerita berlanjut raja rajapun tunduk padanya, cerita abunawas membawaku pada lamunan anak desa yang ingin tercapainya segala keinginan.

Minggu berikutnya di pelajaran agama guruku menjelaskan beberapa ayat ayat dan hadis yang masih teringat sangat jelas bahwa "Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika manusia itu tidak mau merubahnya sendiri", pemikranku tersentak timbul pertanyaan yang membawaku pada kesimpulan sendiri berarti Tuhan tidak berbuat apa apa untukku.

Awal dari bergejolaknya hati yang membawaku terpengaruh dari kehidupanku yang serba kekurangan mengubahku dari si pendiam menjadi anak yang tak terkendali masih ingat betul saat seorang ibuk pertama kalinya menangis untuk anaknya yang melewati batas perubahan.

Berlanjut dari hari kehari minggu ke minggu di madarasah tempat sekolah pergaulan membawaku bertolak belakang dari kepribadianku dari kesetaraan yang terkesan ku paksakan membuatku hilang arah terjebak ke dalam kemunafikan dunia, kini aku yang terperosok pada kerasnya hidup di desa dengan segala kemampuan untuk memenuhi hasrat kini sang anak desa tumbuh menjadi pribadi yang urakan.

Sempitnya pengertian dari orang terdekat membawaku pada di titik ketidak kepedulianku pada siapapun demi memuaskan keinginan apapun terlaksana tanpa harus berfikir.

Setelah dari madrasah berlanjutlah ke Tsanawiyah dalam satu linkungan sekolah dalam pendidikan agamapun membuatku semakin tak menetunya kemana arah hidup semua, aktifitas ku lalui begitu saja seperti tanpa ada arti, seperti terjebak dalam pendewasaan yang terlalu cepat permikiranku membawaku pada kekolotan hidup.

Apa yang bias di harapkan dari hidup anak kampung, berhenti dari pengertian diri mungkin bukan salah mereka yang mengiringi tiap langkah perjalanaku dengan olokan dan cibiran yang menemaniku dari hari ke hari, cermin dari dangkalnya pemikiran pesikologi hidup, aku tumbuh menjadi anak yang jauh dari ketidakcukupan keluarga yang jauh dari keharmonisan yang semakin ku paksakan seuai keinginan yang kuharapkan.

Merenungi nasib bagaiman aku bisa hidup seperti yang ku inginkan, rutinitas menjadi pribadi diri yang tak terkendali, lingkungan yang semakin menyesak kan gerak langkahku membawaku pada pergaulan di luar sewajarnya anak seumuranku.

Bersambung,......

Mujtahidin Billah
Jombang, 24 Juli 2015 08:02pm

Our Famous Clients

Contact Us


ADDRESS
Head Office
Bulurejo, Gempolmanis, Sambeng
Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62284
Office
Perum Astapada Indah II/B10 Plosongeneng
Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61416
08113531100
mediagmnews@gmail.com
MAKE IT YOUR OWN

Saya katakan bahwa cita-cita dengan keadilan sosial adalah suatu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat teknologi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sistem Kapitalisme - Ir. Soekarno

Bloggertheme9.